Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Gheta, S.T., M.M., mengapresiasi pelaksanaan Festival Budaya Tingkat Kelurahan Lasiana 2026 yang dinilai menjadi ruang untuk melestarikan kekayaan budaya sekaligus mempromosikan potensi wisata. Namun, ia berharap pelaksanaan festival berikutnya dapat melibatkan lebih banyak masyarakat dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) agar manfaat kegiatan semakin luas.
Festival Budaya Kelurahan Lasiana berlangsung pada Rabu hingga Jumat (7–9/10/2026) di Kompleks Wisata Pantai Lasiana, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Mengusung tema “Harmoni Budaya di Ujung Sunset Lasiana”, kegiatan tersebut menghadirkan dua mata lomba, yakni Lomba Fashion Show dan Lomba Tarian Kebalai, dengan peserta dari perwakilan RT di Kelurahan Lasiana.

Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Lasiana 2026, Ebit Robinson Sonlay, menyampaikan bahwa dari sekitar 32 RT, terdapat sekitar 20-an RT yang mengikutsertakan peserta dalam kedua perlombaan tersebut. Sebagian besar peserta merupakan anak-anak dan remaja yang tampil mewakili RT masing-masing.
Josefina mengapresiasi Lurah Lasiana bersama masyarakat yang telah menyelenggarakan kegiatan budaya tersebut. Ia juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Lomba Fashion Show dan Lomba Tarian Kebalai, terutama karena kegiatan itu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal dan menampilkan kebudayaan lokal.
Menurut Josefina, Tarian Kebalai merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu terus dijaga dan dipelihara. Pelibatan anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan dalam perlombaan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan tarian tradisional kepada generasi muda agar mereka mengetahui dan mempertahankan warisan budaya yang telah ada sejak generasi sebelumnya.
Meski demikian, Josefina berharap partisipasi masyarakat dalam festival berikutnya dapat ditingkatkan. Menurutnya, festival yang diselenggarakan di tingkat kelurahan merupakan kegiatan bersama sehingga keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada peserta lomba, tetapi juga perlu diperluas kepada berbagai unsur masyarakat lainnya.
Dalam pelaksanaan tahun ini, ia melihat peserta lomba didominasi anak-anak, terutama siswa sekolah dasar. Karena itu, ia mendorong Lurah Lasiana dan panitia agar mencari cara untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat secara lebih luas serta membangun kepercayaan warga terhadap kegiatan yang diselenggarakan.
Selain partisipasi masyarakat, Josefina menyoroti keterlibatan pelaku UMKM yang dinilainya masih terbatas. Padahal, Kelurahan Lasiana memiliki banyak pelaku usaha dengan produk-produk yang berpotensi diperkenalkan kepada masyarakat dan pengunjung.
Menurutnya, festival budaya dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memajang dan mempromosikan produk mereka. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk kuliner, kerajinan dan berbagai produk lainnya.
Josefina berharap pada pelaksanaan festival mendatang, jumlah UMKM yang berpartisipasi dapat ditingkatkan sehingga lebih banyak pelaku usaha memperoleh kesempatan menampilkan produk mereka. Ia juga mendorong agar masyarakat Kelurahan Lasiana dilibatkan secara lebih aktif dalam setiap tahapan kegiatan.

Festival Budaya Dorong Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat
Festival Budaya Kelurahan Lasiana 2026 dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Kupang, Hengky C. Malelak, S.STP., M.Si., pada Rabu (7/10/2026) sore. Kegiatan tersebut turut dihadiri Josefina M. D. Gheta, Camat Kelapa Lima Paskalis Taran Tokan, S.STP., M.M., Anggota DPRD Kota Kupang Absalom Sine, Lurah Lasiana Yohanes F. L. Keluli, S.Sos., M.AP., beserta jajaran, sejumlah perangkat daerah terkait, para Ketua RT dan RW, serta LPM Kelurahan Lasiana.
Dalam sambutannya, Hengky menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi momentum untuk mewariskan sekaligus mengekspresikan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya. Menurutnya, Lasiana tidak hanya memiliki keindahan pantai dan panorama matahari terbenam, tetapi juga kekayaan budaya masyarakat pesisir, tradisi, kreativitas dan potensi ekonomi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Hengky menekankan bahwa budaya perlu terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi muda. Budaya tidak hanya berkaitan dengan tarian, lagu maupun adat istiadat, tetapi juga merupakan bagian dari jati diri masyarakat. Kegiatan seperti Festival Budaya Lasiana dapat memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal dan mengekspresikan kebudayaan yang mereka miliki.
Ia juga berharap pengembangan budaya berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata Pantai Lasiana. Potensi kawasan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi pelaku UMKM, usaha kuliner lokal, kerajinan, seniman, nelayan dan anak-anak muda untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi. Masyarakat setempat juga perlu menjadi bagian dari perkembangan pariwisata sehingga keberadaan kawasan wisata dapat memberikan manfaat bagi perekonomian warga.
Selain pengembangan pariwisata, Pemerintah Kota Kupang mendorong pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Lasiana. Program tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan masyarakat nelayan melalui penyediaan fasilitas seperti dermaga, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), fasilitas rantai dingin, rumah nelayan dan fasilitas sosial lainnya guna menunjang usaha, produktivitas serta kesejahteraan keluarga nelayan.
Hengky turut menekankan pentingnya menjaga laut sebagai sumber kehidupan masyarakat pesisir. Pemanfaatan sumber daya laut perlu dilakukan secara bijaksana agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat. Generasi muda juga didorong mengambil peran dalam mempromosikan potensi Lasiana melalui teknologi dan media sosial, termasuk budaya, kuliner, potensi pesisir, UMKM dan kawasan wisata Pantai Lasiana.
Ketua Panitia: Festival Angkat Budaya, Wisata dan Ekonomi Warga
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Lasiana 2026, Ebit Robinson Sonlay, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari semangat gotong royong dan komitmen masyarakat dalam melestarikan kekayaan seni budaya lokal Nusa Tenggara Timur.
Menurut Ebit, festival tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan potensi Kelurahan Lasiana, khususnya kawasan wisata Pantai Lasiana dengan panorama matahari terbenamnya. Kegiatan budaya diharapkan berjalan beriringan dengan promosi wisata dan upaya menggerakkan ekonomi masyarakat melalui stan bazar yang menampilkan produk UMKM kuliner dan kerajinan lokal.

Ebit juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan kawasan wisata. Menurutnya, sejak kepemimpinan lurah saat ini, masyarakat Kelurahan Lasiana mulai mengembangkan Bank Sampah Lasiana Ekoro sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Bank Sampah Lasiana Ekoro yang saat itu baru berjalan sekitar dua pekan telah mengumpulkan sekitar 600 kilogram sampah yang tidak lagi dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dari pengelolaan tersebut, tercatat omzet sekitar Rp900 ribu.
Ebit menjelaskan, pengelolaan sampah melalui bank sampah menjadi bagian dari upaya menangani persoalan sampah mulai dari tingkat kelurahan. Sampah yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang dapat dipilah, dikumpulkan dan memiliki nilai ekonomi. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kebersihan Pantai Lasiana sebagai kawasan wisata yang dikunjungi masyarakat dan wisatawan.
Selain Bank Sampah Lasiana Ekoro, Ebit menyampaikan rencana pengembangan konsep Lasiana Eco Pay. Melalui konsep tersebut, pengunjung nantinya dapat berkontribusi terhadap kebersihan kawasan wisata dengan membawa sampah yang memiliki nilai daur ulang dari rumah. Sampah seperti botol plastik dan kardus bekas dapat dibawa ke lokasi untuk ditimbang sesuai jenis dan harga yang berlaku.
Pengembangan konsep Lasiana Eco Pay diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan terhadap kebersihan kawasan Pantai Lasiana sekaligus memberikan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan.












