“Saya ingin SABOAK menjadi simbol perubahan cara kita melihat kota. Bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal kebahagiaan warganya. SABOAK adalah ruang di mana ekonomi, budaya, dan kreativitas bisa tumbuh bersama”
dr. Christian Widodo
Walikota Kupang
KUPANG kini punya wajah baru setiap hari Minggu. Di tengah semilir angin Taman Nostalgia yang rindang, tawa anak-anak berpadu dengan lantunan musik etnik dan aroma kuliner lokal yang menggoda. Di antara keramaian stan UMKM dan karya kreatif anak muda, hadir semangat baru yang tumbuh dari akar budaya dan gotong royong masyarakat Kota Kupang — itulah SABOAK, singkatan dari Sunday Market Buat Orang Kupang.

Lahir dari Gagasan Membangun Ruang Hidup yang Kreatif
Event SABOAK merupakan langkah strategis Pemerintah Kota Kupang untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal dan menciptakan destinasi wisata baru di jantung kota. Program ini digagas bukan sekadar untuk menambah ikon wisata, melainkan menghadirkan ruang interaksi kreatif yang memadukan unsur modern dan tradisional.

“SABOAK ini adalah simbol gerakan kolaborasi warga kota. Kami ingin menciptakan ruang publik yang hidup, tempat orang Kupang bisa berekspresi, berjualan, dan berinteraksi dalam suasana yang gembira,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josephina M.D.Gheta, yang lebih akrab disapa Evie Gheta ketika ditemui beberfakta.web.id di ruang kerjanya, Senin 10 November 2025.
Menurut Evie, SABOAK adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah yang berpihak pada masyarakat dan pelaku ekonomi lokal. “Kota ini punya potensi luar biasa. SABOAK adalah wadah bagi kita semua untuk memperlihatkan potensi itu dalam bentuk yang nyata — ekonomi tumbuh, budaya hidup, dan masyarakat bahagia,” lanjutnya.
Filosofi dari Sebuah “Pohon Kehidupan”
Nama SABOAK diambil dari pohon lontar, yang dalam budaya Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai “pohon kehidupan”. Hampir seluruh bagian pohon ini bermanfaat bagi manusia — batang, daun, hingga buahnya.

Dalam konteks event, SABOAK diartikan sebagai simbol kolaborasi lintas sektor — pemerintah, swasta, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat luas. Melalui event ini, nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan cinta terhadap budaya lokal dihidupkan kembali.
“Saboak mengajarkan kita bahwa semua bagian punya peran. Sama seperti pohon lontar, masyarakat Kupang juga tumbuh karena saling menopang.”
Serena Cosgrova Francis – Wakil Walikota Kupang
Visi Walikota: Dari Ruang Publik ke Gerakan Ekonomi
Walikota Kupang, dr. Christian Widodo, memandang SABOAK sebagai lebih dari sekadar event — melainkan gerakan sosial-ekonomi kreatif yang menumbuhkan optimisme baru di tengah masyarakat.
“SABOAK bukan hanya pasar mingguan. Ini adalah gerakan kolektif untuk menghidupkan kembali semangat warga Kupang — agar kita bangga dengan kota sendiri dan berani menggerakkan ekonominya dari bawah,” tegas dr. Christian Widodo.

Ia menambahkan bahwa semangat di balik SABOAK adalah menghadirkan ruang kolaborasi yang inklusif, di mana setiap orang — dari pedagang kecil hingga seniman muda — punya tempat untuk berkarya.
Baginya, SABOAK merupakan bentuk implementasi nyata dari visi pemerintah untuk menjadikan Kupang sebagai kota kreatif, terbuka, dan penuh solidaritas sosial.
Taman Nostalgia: Simbol Kebersamaan yang Hidup Kembali
Pemilihan Taman Nostalgia sebagai lokasi utama SABOAK bukan tanpa alasan. Taman ini sudah lama menjadi ruang publik favorit warga Kupang — tempat berolahraga, bercengkerama, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Kami memilih Taman Nostalgia karena tempat ini menyimpan kenangan kebersamaan warga. Dengan SABOAK, taman ini kembali hidup dan bermakna sebagai ruang publik yang inklusif,”
Josephina M.D.Gheta
Dengan suasana yang teduh dan area yang luas, taman ini kini berubah menjadi ruang kreatif terbuka setiap Minggu — tempat warga dan wisatawan menikmati hiburan, kuliner, serta karya seni lokal.
Karnaval Kreativitas dan Ekonomi Lokal
Rangkaian kegiatan SABOAK tahun ini benar-benar mencerminkan keragaman Kota Kupang. Ada bazar kuliner dan UMKM, pentas seni dan musik daerah, pameran inovasi anak muda, workshop kewirausahaan, hingga ruang ekspresi komunitas.
Semuanya dirancang agar masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif. Anak muda memamerkan karya digital, ibu rumah tangga menjual makanan tradisional, sementara komunitas seni tampil dengan tarian dan musik khas NTT.
“Kami ingin SABOAK menjadi ruang belajar sekaligus panggung bagi semua. Bukan sekadar tempat belanja, tapi tempat tumbuh bersama,” kata Serena menambahkan.
Dampak Nyata untuk Ekonomi Rakyat
Sejak dimulai, event ini telah berjalan selama 20 minggu dan mencatat perputaran uang mencapai Rp4,3 miliar, melibatkan lebih dari 600 pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Dampaknya terasa hingga ke sektor perhotelan, transportasi, dan jasa pendukung.
“SABOAK membuktikan bahwa kebijakan yang menyentuh langsung rakyat akan menumbuhkan kepercayaan dan semangat baru. Ketika warga berdaya, kota ini akan maju dengan sendirinya,”
kata dr. Christian Widodo, menegaskan arah kebijakan pemerintah yang berbasis partisipasi masyarakat.
Bagi para pelaku usaha kecil, SABOAK telah membuka peluang besar. “Setiap Minggu kami bisa dapat omzet dua kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Maria, penjual tenun ikat dari Oesapa. “Selain jualan, saya senang karena bisa bertemu banyak orang dan memperkenalkan hasil tenun kami.”
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Keberhasilan
Kesuksesan SABOAK tidak lepas dari sinergi antara Dinas Pariwisata, pihak swasta, komunitas seni, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini mencerminkan makna sejati dari kata Saboak — bekerja bersama dalam tanggung jawab kolektif.
“Kegiatan ini bukan hanya milik pemerintah, tapi milik semua. Anak muda, UMKM, komunitas, dan kampus ikut berperan. Inilah bentuk nyata Kupang yang kolaboratif,” ujar Evie.
Sektor swasta ikut berpartisipasi melalui sponsorship dan dukungan fasilitas, sementara sekolah dan kampus menampilkan karya seni serta inovasi pelajar dalam bentuk pameran dan lomba kreatif.
Harapan Menjadi Agenda Tahunan Kota Kupang
Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, Pemerintah Kota Kupang berkomitmen menjadikan SABOAK sebagai agenda tahunan resmi dalam kalender pariwisata kota. Dengan dukungan lintas sektor, SABOAK diharapkan menjadi signature event — kegiatan unggulan yang selalu dinantikan setiap tahun.
“Kita ingin SABOAK terus berkembang, bukan hanya di taman ini, tapi juga di hati masyarakatnya. Ini bukan acara pemerintah, ini gerakan warga,” ucap Walikota dr. Christian Widodo menutup sambutannya pada gelaran minggu ke-20.
Generasi Muda sebagai Motor Perubahan
Di tengah sorotan lampu dan musik yang bergema, wajah-wajah muda tampak mendominasi. Mereka bukan sekadar peserta, tapi penggerak utama. Dinas Pariwisata menaruh harapan besar agar generasi muda Kupang terus berinovasi dan menjadi bagian dari pembangunan daerah.
“Anak muda Kupang punya energi luar biasa. SABOAK ingin menjadi wadah bagi mereka untuk berani berkarya dan menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi jalan hidup,”
kata Serena penuh semangat.
Menuju Kota yang Hidup, Kreatif, dan Inklusif
Ke depan, Pemerintah Kota Kupang berencana memperluas pelaksanaan SABOAK ke kawasan lain agar manfaat ekonomi dan sosialnya lebih merata. Konsepnya sederhana: dari Kupang untuk semua — semangat berbagi yang terus menumbuhkan kebanggaan akan kota sendiri.
Tantangan tentu ada, mulai dari koordinasi lintas sektor hingga keterbatasan sumber daya. Namun seperti semangat Saboak itu sendiri, kebersamaan selalu menjadi solusi terbaik.
“SABOAK bukan sekadar pasar minggu. Ia adalah panggung kebersamaan, tempat kita saling mengenal, saling menguatkan, dan tumbuh bersama sebagai orang Kupang,” tutup Serena dengan senyum bangga.
Denyut dari rakyat sendiri
Dengan semangat gotong royong dan cinta terhadap budaya lokal, SABOAK telah menjelma menjadi gerakan kolektif masyarakat Kota Kupang — simbol bahwa kreativitas dan kebersamaan mampu melahirkan perubahan nyata. Dari taman kota yang hidup kembali, hingga wajah-wajah muda yang percaya diri menatap masa depan, SABOAK membuktikan bahwa **Kota Kupang sedang bertumbuh — dengan jantung yang berdenyut dari rakyatnya sendiri.






